Thursday, August 23, 2012

Tidak Ada Guru yang Tidak Mampu Menjadi Wali Murid Siswa


Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, guru di Indonesia dharapakan punya empat kompetensi dalam melaksanakan profesinya, Lihat selengkapnya klik disini.
Selain dari kompetensi di atas guru juga diberi hak/wewenang dari kepala sekolah untuk menjadi wali kelas siswa guna membantu kepala sekolah dalam menjalankan Manajemen Sekolah. Bagi kebanyakan orang menjadi wali kelas siswa merupakan pekerjaan yang menyenangkan (tutur salah satu guru di SMKN 1 Pugaan), namun dari sekian banyaknya guru ada yang berpandapat bahwa menjadi wali murid siswa merupakan momok pekerjaan yang membebankan dan menakutkan. Hal ini mengingat banyaknya beban yang diberikan oleh guru tersebut serta banyaknya siswa yang ditangani di dalam kelas (bagi yang banyak masalah). Namun sebagian besar masalah yang paling sulit adalah yang berhubungan dengan para anak didik (siswa) itu sendiri. Menjadi wali murid siswa, guru harus mampu benar-benar memahami situasi kondisi serta keadaan peserta didiknya, baik secara pribadi ataupun umum baik dilingkungan pada saat sekolah maupun diluar lingkungan sekolah (dirumah).  Hal ini bertujuan untuk memudahkan guru dalam mendidik serta memotivasi siswa menuju dalam keadaan siap belajar dan siap melakukan perubahan menjadi manusia pembelajar.
            Selain dari hal diatas, sebenarnya pekerjaan menjadi wali kelas siswa adalah pekerjaan yang mudah, menyenangkan dan membanggakan asalkan para calon wali siswa (guru) tahu cara nya.
Mendidik manusia sebagaimana hanya mendidik hewan peliharaan (bukan berarti murid itu adalah hewan. Ckckckckc…) seperti pada cerita saya berikut;
Pengalaman yang tak sengaja saya peroleh dari 2 ekor kucing yang memang dari awal tabiatnya garang, beringas, liar,dll (layaknya kucing kesambet setan. Hehehe….). Selama masa pemeliharaan yang di dapat adalah yang berkaitan dengan cara makannya kucing. Pada waktu setiap keluarga saya makan si kucing pun ikut juga makan, namun hal yang paling menjengkelkan adalah  ketika pada waktu makan si kucing selalu tidak beraturan, makan semaunya sendiri (makan sana makan sini), dan selalu berebut dan bertengkar pada waktu makan. Pada saat itu saya berpikiran untuk merubah tabiat si kucing yang dulunya cara makannya si kucing selalu tidak beraturan, makan semaunya sendiri (makan sana makan sini), dan selalu berebut dan bertengkar pada waktu makan tidak lagi demikian.
Cara demi cara saya lakukan mulai dari memperhatikan cara makannya, tempat makannya, kapan makan yang pas diberikan (tidak sama-sama yang punya rumah). Akhirnya tidak beberapa lama bulan selang kemudian, tabiat kucing yang dulunya si kucing selalu tidak beraturan menjadi beraturan, makan semaunya sendiri menjadi bisa di atur (tidak makan sana-makan sini), dan selalu berebut dan bertengkar pada waktu makan sekarang tidak lagi (peace…. Heheeee…).

Berdasarkan dari pengalaman saya di atas menggambarkan bahwa mendidik itu bukanlah hal yang sulit di lakukan oleh semua calon wali murid siswa, asalkan ada niat/kemauan serta usaha semuanya akan terwujud. Hal ini tergambar dari pengalaman yang saya peroleh di atas, karena pada hakekatnya manusia dan binatang itu berbeda. Binatang tak punya akal dan pikiran sedangkan manusia mempunyai akal dan pikiran. Sebagai pertanyaan, “binatang saja bisa di atur kenapa manusia tidak????”.
Karena pada dasarnya manusia adalah :
1.      Manusia adalah makhluk pembelajar.
2.      Sifat manusia adalah makhluk yang berfikir (bukan hewan peliharaan seperti cerita di atas)
3.      Manusia bereaksi terhadap instruksi yang berasal dari lingkungannya jika dibekali dorongan (stimulus) khusus.
4.      Manusia adalah makhluk sosial (membutuhkan interaksi antara guru dan siswa).
Membahas tentang hubungan guru dan murid, seorang pakar psikologi , Herbart juga merasakan bahwa dalam  interaksi antara guru dan siswa terjadi proses yang sangat dinamis dan kompleks sehingga sulit untuk dijelaskan secara sederhana. Inilah salah satu alasan banyak proses belajar yang bermuara pada kegagalan belajar siswa.

 
Comments
0 Comments

No comments: