Friday, October 10, 2014

Budaya Banjar

Indonesia memiliki berbagai macam kebudayaan, Budaya adalah sebuah kebiasaan yang berlaku di masyarakat, dan budaya juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan budi pekerti, pengetahuan, kepercayaan, adat istiadat, kesenian, hukum, kemampuan-kemampuan dan kebiasaan yang ditemukan dan didapatkan manusia dari segala pengalaman hidup sehari-hari dan diberlakukan dalam kehidupan masyarakat tersebut.
Berikut ini adalah budaya dan kebudayaan yang ada dan berlaku di Kota Kelua :
1. FESTIVAL TANGLONG
Acara festival tanglong adalah sebuah acara keagamaan islam yang dilakukan untuk memperingati turunnya Kitab Suci  Alqur’an, sudah menjadi Budaya bagi masyarakat Kelua mengadakan acara tahunan seperti ini, biasanya acara bearakan tanglong ini diadakan pada bulan Ramadhan atau hari ke 17 pada Bulan Ramadhan. Acara ini selalu diadakan pada malam hari, karena suasana kemeriahan tanglong kurang berkesan dan menarik apabila acaranya dilakukan pada siang hari. Biasanya lomba tanglong ini diadakan oleh panitia mesjid besar Ar-Ridha kelua yang bekerjasama dengan pihak-pihak yang terkait, Para peserta yang mengikuti lomba ini adalah perwakilan dari kampung mereka masing-masing, ataupun mereka mengusung nama Musholla di Kampung mereka sendiri, kemeriahan malam tanglong di kelua semakin lengkap dengan kehadiran penonton yang datang baik dari dalam maupun dari luar kota Kelua, seperti Amuntai, tanjung dll. Para penonton biasanya juga ikut memeriahkannya dengan menyalakan kembang api di langit hitam. Jepret-jepret kamera Handpone penonton pun banyak ditemui, yang mereka tidak ingin kehilangan moment indah itu dan ingin mengabadikannya.
Kreatifitas yang dimiliki warga kelua bisa di acungi jempol, biasanya dana yang diperoleh untuk membuat hasil karya tanglongnya adalah hasil patungan dari warga kampungnya sendiri, yang dipungut dengan sukarela dari pintu ke pintu, walaupun dengan peralatan dan barang yang seadanya, mereka berhasil membuat hasil karya yang hebat dan sangat menarik, bentuknya pun bermacam-macam, ada yang berbentuk Al-Qur’an, Mesjid, Hewan Unta, Gua Hiro dan berbagai macam bentuk lainnya yang tetap pada jalur tema keislaman.
Rute perjalanan mearak tanglong ini biasanya dimulai dari Terminal Kelua menuju Desa Pari-pari, balik arah lagi sampai desa Kepala Tembok dan Finish nya kembali ke Terminal Kelua.
Banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil dari acara festival tanglong ini, yaitu kekompakan, keakraban  dan antusias semua warga dalam ikut berpartisipasi memeriahkan turunnya Kitab suci Al-Qur’an.
Semoga budaya bearakan tanglong ini tetap selalu ada dan dimiliki Masyarakat Kelua sampai kapanpun.
2. ACARA MAULIDAN BE SIH
Pada tanggal 14 rabiul awal adalah hari kelahiran dan juga wafatnya baginda nabi besar muhammad SAW, semoga rahmat dan ampunan selalu tercurah kepada beliau, keluarga beliau, pengikut beliau, serta umat beliau hingga kapan pun, amin... ya rabbal alamin.
Dalam menyambut bulan rabiul awal yaitu bulan kelahirannya Baginda Rasullullah SAW, kebanyakan para warga kota kelua memperingatinya dengan selalu mengadakan acara maulidan be sih di kampung mereka sendiri, acara maulidan be sih ini secara garis besarnya hampir sama dengan acara maulidan yang dirayakan di kota-kota besar lainnya, kalau di kota besar seperti banjarmasin tempat tingal penulis sekarang, acara maulidan dilakukan pada Mesjid-mesjid atau Musholla, kalaupun ada yang dirumah, itu biasanya dilakukan oleh orang kaya yang ingin acara tersebut dilakukan dirumahnya.
Kalau di kota kelua ada sedikit perbedaan unik dan menarik dilakukan disana, acara be maulidan nya sama dilakukan di mesjid, namun setelah selesai acaranya, para jemaah nya tidak menyantap hidangan makanannya di dalam mesjid seperti yang dilakukan di Banjarmasin, tetapi mereka pulang kerumah tempat mereka diundang keluarganya ataupun kerabat dan teman dekatnya.
Apabila dalam suatu kampung itu mengadakan acara maulidan be sih, biasanya warga yang ikut mengadakan acaranya hampir semua rumah yang ada di kampung itu, sehingga suasana kampung menjadi rame dan keakraban silaturahmi dapat terjalin dengan baik. Semoga pada hari perhitungan kelak kita semua mendafaat syafaat dari baginda Rasulullah SAW dengan selalu mencintai dan memperingati hari kelahiran beliau. Amin Ya rabbal alamin.
3. MALAM PASAR AMAL / LELANG WADAI
Pasar amal atau yang biasa disebut malam amal atau juga Saprah Amal adalah budaya yang tidak pernah penulis temukan di daerah jawa, bahkan di daerah kota banjarmasin yang bisa dikatakan tidak begitu jauh, juga hampir tidak ditemukan sama sekali disana.
Acara pasar amal/lelang wadai ini dilakukan warga kelua apabila kampung mereka tersebut ingin membangun sebuah mesjid/musholla ataupun memperbaiki dan merenovasi nya. Dana yang dimiliki masih kurang sehingga diadakannya malam pasar amal. Namanya saja malam pasar amal, berarti acaranya diadakan pada malam hari, acara malam amal ini berbeda dengan acara tanglong yang dilakukan pada bulan ramadhan, acara malam amal ini bebas dilakukan pada bulan apa saja dan kapan saja kampung yang bersangkutan ingin mengadakan dan membutuhkan dana untuk mesjid/musholla mereka.
Adapun acara tersebut diadakan disebuah panggung yang didirikan bergotong royong oleh warga setempat, acara tersebut tetap bernuansa islamiyah seperti Tausiyah Agama, Pembacaan kitb suci alqur’an dan pembawakan lagu-lagu kasidah atau yang bernuansakan islamiyah, kemudian pada akhir acaranya dari acara malam amal ini adalah dengan di lelangnya kue-kue kepada penonton yang datang menyaksikan acara tersebut yang kebanyakan penonton datang dari kampung tetangga sebelah dan sekitaran kelua, kue-kue yang dilelang itu diperoleh dari ibu-ibu yang membikin sendiri kue nya dirumah  ataupun membelinya dan  menymbangkan kue tersebut kepada panitia acara malam amal untuk dilelang.
Jangan heran jika harga kue yang dilelang itu harganya tinggi-tinggi, satu piring kue/wadai bisa berkisar sekitar Rp. 50.000 sampai ratusan ribu rupiah, tergantung dari menarik dan besarnya kue yang dilelang. Bentuk dan macamnya pun beragam. Walaupun harga kue itu mahal, kalau pembelinya ikhlas maka itu akan menjadi amal ibadah yang bermanfaat. Karena hasil dari penjuialan kue yang di lelang itu 100% digunakan untuk kepentingan mesjid/musholla yang ingin dibangun atau di renovasi.
4. UNDANGAN MAKAN UNTUK AMAL
Undangan makan untuk amal ini tujuannya sama dengan malam pasar amal diatas, yaitu kegiatan untuk mengumpulkan dana demi mencukupi kekurangannya untuk membangun atau merenovasi mesjid warga.
Pada kegiatan ini semua warga yang ada pada kampung yang bersangkutan, baik ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, anak kecil dan orang tua ikut bergotong royong membuat maskan dan segala kebutuhan yang diperlukan untuk dihidangkan kepada tamu yang diundang, biasanya tamu yang diundang adalah tamu dari jauh, baik itu kampung sebelah ataupun warga yang ada disekiraan kelua.
undangan makan untuk amal ini dilakukan dengan membagikan selebaran undangan ke rumah-rumah penduduk di kampung sebelah dan sekitarnya. Dalam undangan itu sudah dijelaskan tujuannya bahwa dana yang diperoleh akan ditujukan untuk mesjid/musholla. Pada selebaran  undangan itu juga dijelaskan tempat dan waktu diadakannya kegiatan tersebut. berbeda dengan malam pasar amal yang pemberitahuan kapan acaranya diadakan yaitu dengan pawai  menggunakan mobil kelling kota kelua yang dilengkapi dengan pengeras suara untuk memberitahukan kepada warga dimana tempat acaranya dilaksanakan.
Apabila kita sudah datang disana kita dijamu warga kampung dengan makanan yang bermacam-macam dan  kegiatan undangan makan untuk amal ini sangat ramai didatangi warga setempat dan sekitarnya, karena selain bearamal untuk mesjid, perut pun kenyang datang kesana..
Di tempat pintu keluar setelah selesai makan, biasanya disediakan Guci tempat mengisi amplop untuk amal,  biaya satu porsi makan di Undangan makan tersebut bisa dikatakan relatif mahal dan biaya satu porsi makan itu sudah diberitahukan pada selebaran undangan yang dibagikan, tapi jikalau itu untuk amal ibadah kita sendiri, hal itu tidak menjadi masalah sama sekali, jadi selesai makan kita tinggal memasukkan amplop yang kita bawa dari rumah.


5. BAGARAKAN SAHUR
Di Kota kelua Begarakan sahur adalah hal yang sangat membudaya sekali dikalangan masyarakatnya, Begarakan sahur dilakukan pada subuh hari, biasanya sekitar jam 02.00 sampai menjelang imsak subuh, berbagai barang bekas dipukul dengan semangat oleh para remaja yang niat dan tujuan mereka ingin membangunkan para penduduk agar tidak kesiangan bersiap santap sahur pada bulan ramadhan.
Para remaja berkeliling dari kampung ke kampung dengan berjalan kaki sambil menjinjing barang bekas yang dapat mengeluarkan bunyi. "Tapi jangan salah", bukan sembarang bunyi atau sembarang pukul yang dikeluarkan para remaja tersebut, bunyi yang dihasilkan berirama dan didesain seindah mungkin agar menyerupai musik yang enak di dengar telinga.
Dulu ketika penulis masih remaja, hal itu pun tidak ketinggalan dilakukan, rasa capek dan kaki yang pegal dalam berjalan mengelilingi kampung ke kampung pastilah dirasakan, namun kebahagiaan yang dirasakan dalam membangunkan orang-orang untuk bersahur bersama teman-teman itu sudah menjadi obat yang sangat mujarab bin ajib. Dulu kami sebelum tampil begarakan sahur bersama teman-teman sebaya, siangnya latihan dulu di tengah sawah yang jauh dari tempat pemukiman penduduk, karena kalau dekat dengan rumah warga, sontak saja orang-orang akan marah karena suara bising pada siang hari yang mengganggu tidur orang.
Benda-benda yang dipukul beraneka ragam, ada kaleng bekas, botol bekas, bambu, wajan,  ember, rantang dll. yang dianggap bunyinya tidak menyamai punya teman. Dari perpaduan bunyi yang berbeda itulah menghasilkan dentuman musik yang indah.


6. BE PANGANTENAN
Masyarakat kota Kelua adalah masyarakat yang sangat santun dan memiliki rasa sosial yang tinggi terhadap sesama, terbukti dengan masih kentalnya rasa kegotong royongan yang dimiliki warga kelua, salah satu comtoh misalnya ada acara perkawinan pada suatu kampung, maka warga yang ada pada kampung tersebut dengan antusias sekali akan membantu bergotong royong pelaksanaan acara yang dilaksanakan tuan rumah, mulai dari mendirikan tenda, membuat masakan dan menyiapkan segalanya, semua warga berbagi tugas masing-masing sesuai pembagian tugas yang telah ditetapkan pada hasil rapat yang biasanya diadakan pada malam hari. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semua ikut berpartisipasi dalam membantu acara perkawinan tersebut.  Itu semua dilakukan dengan sukarela, berbeda halnya dengan penduduk yang ada di kota-kota besar yang apabila ingin menagadakan acara perkawinan maka mereka akan mencari orang untuk membantu dan diberikan umpah yang pantas.
Yang penulis ketahui sampai sekarang ini, Di Desa Banua Rantau apabila ada warga yang akan melangsungkan perkawinan, maka tiap kepala keluarga dalam kampung itu akan menyumbangkan 2 ekor ayam untuk dijadikan lauk pada acara perkawinan.
Berikut ini adalah budaya lainnya yang dimiliki warga kelua apabila ada acara perkawinan di kampung mereka, walaupun sekarang ini sudah jarang ditemukan namun masih ada
  1. Penganten Bausung (Penganten dibawa pawai keliling kampung) hal ini dilakukan apabila biasanya rumah penganten pria nya tidak begitu jauh dengan sang wanita yang masih dalam satu kampung saja, sang penganten diangkat diatas bahu, ada juga di daerah Hariang, pengantennya diarak dengan gerobak yang dihiasi berbagai macam pernak-pernik yang menarik.
  2. Be Tamat (Khatam Al-Qur’an) Be Tamat ini dilakukan pada penganten pria atau wanita nya, dan dilaksanakan pada malam hari sebelum acara perkawinan dirayakan.
  3. Madihin (Bersilat Lidah diiringi musik dan diselingi humor jenaka) acara ini juga biasanya dilaksanakan pada malam hari sebelum acara perkawinan dirayakan
  4. Sinoman Hadrah, yaitu Pertunjukan seni berupa tarian berkelompok yang diiringi nyanyian banjar / shalawat kepada Rasulullah SAW dan musik rebana. Tarian ini tak lupa dilengkapi dengan payung yang diputar-putar, namun yang seperti ini sudah jarang sekali ditemukan, sekarang banyak diganti dengan musik karaoke atau Orkes dangdut.
  5. Dan lain sebagainya.

Masih banyak sekali Budaya dan Kebudayaan yang dimiliki masyarakat Kelua yang belum sempat penulis suguhkan disini, mungkin lain waktu dan kesempatan penulis bisa lebih baik dan lebih sempurna lagi dalam penyajian tulisan ini.
Comments
0 Comments

No comments: